Meniti Harapan di Ujung Senja
Di sebuah desa kecil yang terletak di kaki bukit, Bu Wati sudah cukup lama hidup sendiri. Rumahnya sederhana, kayunya sudah mulai lapuk, tapi dia masih bisa mengurusnya dengan tangannya sendiri. Setiap pagi, dia menyapu halaman, membersihkan kebun, dan menyiapkan makanannya. Anak-anaknya? Sudah lama pergi ke kota. Mereka datang cuma sesekali. Itupun kalau lagi ada waktu. Tapi Bu Wati tak pernah merasa kesepian. Dia sudah terbiasa dengan kesendirian. Pada suatu sore, Bu Wati duduk di teras rumahnya, seperti biasa, sambil menikmati senja yang perlahan turun. Angin dingin dari bukit mulai berhembus. Tiba-tiba ada seseorang yang lewat di depan rumahnya. Seorang pemuda, kelihatannya kelelahan dan ragu-ragu. Dia berhenti, menggaruk-garuk kepalanya, lalu akhirnya mendekat. “Nenek, selamat sore... saya baru datang ke sini. Ada kerjaan yang bisa saya bantu?” Pemuda itu terdengar cemas, seolah tidak tahu harus mulai dari mana. ...